Monumen Pers

Rekam Jejak Persatuan Wartawan Indonesia

Jl. Gajah Mada No.59, Punggawan, Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57132
Jam Buka: Senin – Jumat Pukul 08:00 – 15:00
Telepon: (0271) 716008

Tiket Masuk
Rp. 5.000

Monumen Pers merupakan museum khusus pers nasional yang berada di Surakarta, Jawa Tengah. Monumen Pers didirikan pada tahun 1976 atas prakarsa dari KGPAA, Sri Mangkunegoro VII. Awal mula didirikan,  gedung tersebut berfungsi sebagai balai pertemuan. Seelum menjadi Monumen Pers, nama gedung tersebut adalah Gedung Societeit. Pada awal kemerdakaan NKRI, gedung tersebut juga pernah dijadikan sebagai Markas Besar Palang Merah Indonesia (PMI).

Pada tahun 1933 di Gedung Societeit diadakan sebuah pertemuan yang dipimpin oleh R.M. Ir. Sarsito Mangunkusumo. Hasil dari pertemuan tersebut, lahirlah sebuah stasiun radio baru yang bernama Solosche Vereeniging (SRV). Tujuan dari dibuatnya radio tersebut adalah sebagai radio untuk penyemangat para pribumi. Pada tanggal 9 Februari 1946, kembali diadakan sebuah rapat dimana dari hasil rapat tersebut dibentuk organisasi profesi kewartawanan pertama di Indonesia, yaitu PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) yang diketuai oleh Mr. Soemanang .

Dalam rapat tersebut juga disepakati bahwa pada tanggal tersebut  ditetapkan sebagai hari lahir Persatuan Wartawan Indonesia sekaligus Hari Pers Nasional. Dengan dibentukanya orgaisasi Persatuan Wartawan Indonesia, maka atas restu presiden dan dukungan pemerintah dan masyarakat, gedung yang dahulunya merupakan gedung “Sasana Soeka” dijadikan sebagai Monumen Pers Nasional.

Dalam peringatan 25 tahun PWI paa tanggal 9 Februari 1956, B.M. Diah, S. Tahsin, Rosihan Anwar, dan lain-lain mencetuskan sebuah gagasan mengenai penirian Yayasan Museum Pers Indonesia. Berdasarkan ide tersebut, terbentuklah Yayasan Museum Pers Indonesia pada tanggal 22 Mei 1956, dengan R.P. Hendro, Kaidono, Sawarno Prodjodikoro, Mr. Soelistyo, Soebekti sebagai pengurusnya. Untuk mengisi monumen, buku milik Soedarjo Tjokrosisworo dijadikan sebagai koleksi. Saat ini, Monumen Pers Indonesia telah memiliki lebih dari satu juta surat kabar dan majalah sejak masa sebelum dan sesudah Revolusi Nasional Indonesia dari berbagai daerah di Nusantara. Selain buku dan surat kabar, koleksi lain dari Monumen Pers Nasional ialah teknologi komunikasi dan teknologi reportase, seperti penerbangan, mesin ketik, pemancar, telepon dan kentongan besar.

Pada kongres di Palembeng pada tahun 1970 muncullah niat mendirikan “Museum Pers Nasional”. Kemudian pada 9 Februari 1971, Menteri Penerangan Budiardjo menngumumkan tentang pendirian Museum Pers Nasional di Surakarta. Nama Museum Pers Nasional dakhirnya berubah menjadi Monumen Pers Nasional pada pada kongres di Tretes tahun 1973 atas usulan PWI cabang Surakarta.

Pada tanggal 9 Februari 1978, Presiden Soeharto meresmikan Monumen Pers Nasional dengan penandantangan prasati. Pengelolaan Gedung Monumen Pers Nasional tersebut diserahkan kepada Yayasan Pengelola Sarana Pers Nasional yang berada di bawah Departemen Penerangan sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Penerangan RI No.145/KEP/MENPEN/1981 tanggal 7 Agustus 1981.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *