Keraton Kasunanan

Jejak Sejarah Keraton Surakarta Hadiningrat

Jl. Sidikoro, Baluwarti, Ps. Kliwon, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57144
Jam Buka: Senin – Kamis Pukul 08:30 – 14:00
Sabtu – Minggu Pukul 08:30 – 13:00
Telepon: (0271) 65643201

Tiket Masuk
Rp. 10.000

Keraton Kasunanan atau Kraton surakarta Hadiningrat merupan satu dari dua keraton di Surakarta yang sampai saat ini masih dilestarikan dan dipelihara dengan baik. Keraton Surakarta ini dibangun pada 1745 masehi oleh  Susuhunan Pakubuwana II. Pebangunan Keraton Kasunanan ini bertujuan untuk menggantikan keraton sebelumnya yang berada di Kartasura yang porak poranda saat terjadi keributan pecinan pada tahun 1743. Lokasi Keraton Kasunanan ini berada tepat di sebalah Masjid Agung Solo yang juga merupakan Masji tertua di Solo.

Keraton Kasunanan Surakarta terdiri dari beberapa bagian atau bangunan, yaitu bangunan inti dan bangunan pendukungnya seperti Gapura (pintu gerbang) yang disebut Gladag pada bagian Selatan. Selain itu da dua Alun-alun di sebelah Utara dan Selatan kompleks Keraton. Di Keraton ini juga, terdapat Kyai Slamet, yakni seekor Kerbau putih yang dikeramatkan sebagai salah satu pusaka Keraton Kasunanan Surakarta.

Sejak tahun 1945, Kasunanan Surakarta telah resmi bergabung menjadi bagian dari Negera Kesatun Republik Indonesia, akan tetapi, Keraton kasunanan sendiri sampai saat ini masih menjalankan tradisi kerajaan. Di Keraton tersebut juga merupaka tempat tinggal dari Sri Sunan dan rumah tangga istananya.

Keraton Kasunanan merupakan salah satu objek wisata di Solo, dimana terdapat museum yang menyimpan benda Рbenda bersejarah dari keraton dan juga berbagai barang serta koleksi dari Keraton seperti berbagai benda pemberian dari raja Рraja Eropa jaman dulu, replika pusaka keraton, dan gamelan.

Sejarah didirikanya Keraton Kasunanan dimulai dari kericuhan yang terjadi dimana Susuhunan Pakubuwana II memegang tampuk pemerintahan, Mataram mendapatkan serangan dari orang Tionghoa yang didukung oleh orang Jawa yang anti VOC. Dalam serangan tersebut, mengakibatka keruntuhan Mataram secara total, baik pemerintahanya maupun bangunanya. Serangan yang terjadi pada tahun 1742 tersebut terjadi ketika pusat pemerintahan Mataram masih berada di Kartasura.

Karena peristiwa serangan tersebut, Susuhunan Pakubuwana II menyingkir ke Ponorogo dan mendirika istana pemerintahan yang baru di desa Sala yang juga merupaka ibukot Mataram selanjutnya. Pemilihan lokasi baru sebagai ibukota dikarenakan Susuhunan Pakubuwana II menilai bahwa Kartasura telah rusak parah dan tercemar sehingga is mengutus umenggung Hanggawangsa bersama Tumenggung Mangkuyudha, serta komandan pasukan Belanda, J.A.B. van Hohendorff untuk mencari lokasi baru.

Akhirnya diputuskan di desa Sala yang berjarak 20 km ke arah tenggara dari Kartasura. Lokasi baru untuk Keraton kasunanan ini terletak tidak terlalu jauh dari Sungai Bengawan Solo. Susuhunan Pakubuwana II membeli pekarangan yang akhirnya dibuat untuk keraton sebesar selaksa keping emas yang diberikan kepada akuwu (lurah) Desa Sala yang bernama Ki Gede Sala. Setelah selesai di bangun, nama desa Sala akhirnya diubah menjadi Surakarta Hadiningrat. Istana ini juga menjadi saksi bisa penyerahan kedaulatan Kesultanan Mataram kepada VOC yang langsung diserahkan oleh Susuhunan Pakubuwana II pada tahun 1749. Setelah adanya perjanjian Giyanti pada tahun 1755, keraton dijadikan sebagai istana resmi bagi Kasunanan Surakarta..

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *